Thursday, July 30, 2026

Tropical Aliens karya Eko Nugroho: Seni yang Menyentil Kekuasaan




Sekilas, Tropical Aliens karya Eko Nugroho terasa seperti dunia yang playful dan penuh warna. Ada karakter aneh, wajah tertutup, dan bentuk-bentuk yang terasa jenaka. Warnanya bikin mata terus ingin melihat lebih jauh. Tapi setelah beberapa saat di ruang pamer, saya sulit berhenti hanya pada tampilan luarnya. Ada sesuatu yang terus mengganjal, minta diperhatikan lebih dalam.

Di balik warna-warna itu, banyak hal sedang disentil. Soal kekuasaan, soal pemerintah, soal sistem yang harusnya melayani masyarakat. Justru sistem itu terasa makin jauh dari orang-orang yang seharusnya jadi pusatnya. Saya cukup lama memandangi beberapa karya di pameran ini. Bukan karena sulit dipahami, tapi karena terasa dekat dengan keseharian. Karya-karyanya tidak datang dengan wajah marah. Justru sebaliknya, ada humor, warna cerah, dan karakter absurd yang menyenangkan dilihat.

Semakin diperhatikan, semakin terasa ada sesuatu yang serius di baliknya. Dalam mural Tropical Aliens #5, Eko menampilkan banyak figur dengan identitas masing-masing. Mereka berada dalam satu ruang, tapi tidak semuanya terlihat menyatu. Karya ini bicara tentang keberagaman, dan bagaimana perbedaan seharusnya jadi ruang berdialog. Bukan alasan untuk saling menyingkirkan. Ada satu kalimat yang menarik perhatian saya: "STOP ARMING EGO." Sederhana, tapi rasanya sangat relevan dengan keadaan sekarang.

Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak persoalan bermula ketika ego kelompok lebih penting dari kepentingan publik. Dalam konteks kekuasaan, persoalan ini bisa jadi lebih rumit lagi. Ketika penguasa terlalu sibuk dengan kepentingannya sendiri, masyarakat perlahan merasa makin jauh dari sistem yang harusnya melayani mereka. 

Salah satu karya yang paling menarik perhatian saya adalah Costume Party #2, "Feeding to Silence". Dari jauh, bentuknya terlihat lucu, hampir konyol. Ada figur duduk di kursi plastik dengan nampan makanan menutupi kepalanya. Nampan itu sekaligus jadi topeng, menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih pahit.

Di balik bentuk jenaka itu, ada kritik tajam soal korupsi dan penyalahgunaan kepentingan publik. Karya ini merujuk pada ironi ketika program bantuan gizi anak justru melenceng dari tujuannya. Dalam kritik Eko, yang akhirnya "kenyang" bukan mereka yang seharusnya dibantu. Melainkan pihak-pihak yang berada di balik program tersebut. Ada sesuatu yang pahit di baliknya, dan itu yang bikin saya diam cukup lama di depan karya ini.


Judul Tropical Aliens sendiri jadi makin menarik setelah melihat semua karya. Kita biasanya membayangkan alien sebagai sesuatu yang asing, datang dari luar. Tapi bagaimana kalau rasa asing itu justru muncul di tempat paling kita kenal, di negeri sendiri? Materi pameran menjelaskan bagaimana kebijakan publik yang harusnya melindungi rakyat justru bisa disalahgunakan untuk kepentingan segelintir kelompok. Dari sini, alienasi bukan lagi soal menjadi berbeda. Tapi soal bagaimana masyarakat bisa merasa makin jauh dari sistem yang seharusnya berpihak pada mereka.

Bagi saya, ini salah satu gagasan paling kuat dari pameran ini. Pemerintah dan institusi publik pada dasarnya dibentuk untuk melayani masyarakat. Ada aturan, kebijakan, anggaran, dan program yang semuanya seharusnya kembali ke kepentingan publik. Ketika hal itu bergeser, yang hilang bukan cuma kepercayaan. Ada rasa memiliki yang ikut hilang bersamanya. Mungkin di situlah alien dalam Tropical Aliens terasa lebih dekat dari yang kita kira.

Eko melihat seni sebagai sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari keadaan sosial dan politik di sekitarnya. Saya setuju dengan gagasan itu, karena karya seni tidak selalu harus memberi jawaban. Kadang cukup menjadi pertanyaan: apakah sistem yang kita bangun masih bekerja untuk masyarakat? 

Pertanyaan itu terasa berat, tapi Eko menyampaikannya lewat warna, humor, dan karakter-karakter aneh. Karyanya playful tapi tidak dangkal, warnanya cerah tapi tetap bicara sesuatu yang gelap. Saya keluar dari pameran ini bukan dengan satu kesimpulan, melainkan banyak pertanyaan yang terus terbawa pulang. Tropical Aliens adalah karya seni yang membuat kita melihat, lalu berpikir dua kali.

"Tropical Aliens"
A solo exhibitions by Eko Nugroho
At Nadi Gallery
July 2 - Aug 8, 2026