Monday, June 01, 2026

Biyan Spring Summer 2027: Patina



BIYAN Spring/Summer 2027 "Patina" adalah salah satu pertunjukan mode yang terus bertahan dalam ingatan saya, bahkan setelah lampu panggung padam dan para tamu meninggalkan ruangan.

Awal Juni lalu, Biyan Wanaatmadja mempersembahkan koleksi terbarunya di InterContinental Jakarta Pondok Indah. Bahkan sebelum acara dimulai, rasa penasaran saya sudah muncul saat menerima undangan bernuansa hijau dan emas dengan ilustrasi pohon yang menjadi elemen utamanya. Saya bertanya-tanya, apa yang akan ditampilkan seorang desainer yang telah berkarya lebih dari empat dekade dan tetap mampu mempertahankan relevansinya hingga hari ini?

Jawabannya mulai saya temukan bahkan sebelum model pertama melangkah ke runway.

Memasuki ruangan, mata saya langsung tertuju pada ilustrasi pohon berukuran besar yang mendominasi area panggung. Bukan sekadar elemen dekoratif, pohon itu terasa menjadi pusat dari keseluruhan cerita yang ingin disampaikan malam itu. Ketika alunan piano mulai terdengar, para model berjalan dari berbagai arah, saling berpapasan dan menyilang. Gerak mereka mengingatkan saya pada akar yang tumbuh diam-diam di bawah tanah, menjalar ke berbagai sisi dan terus mencari kehidupan.

Saat itulah saya mulai memahami makna di balik nama Patina.

Dalam dunia seni dan desain, patina merujuk pada jejak yang dibentuk oleh waktu. Sebuah lapisan yang muncul secara alami melalui proses, usia, dan perjalanan panjang. Bukan sesuatu yang baru atau sempurna, tetapi justru menjadi indah karena telah mengalami banyak hal. Gagasan tersebut diterjemahkan Biyan ke dalam koleksi yang terasa sangat dekat dengan alam dan siklus kehidupan.

Alih-alih menghadirkan musim semi melalui warna-warna cerah dan nuansa yang riang, Biyan memilih pendekatan yang lebih tenang dan reflektif. Palet warna yang mendominasi koleksi ini mengingatkan saya pada suasana alam setelah hujan, seperti hijau lumut, hijau hutan, biru Prusia, moka, ecru, hingga berbagai gradasi cokelat tanah. Ada keteduhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sesaat saya merasa seperti sedang berjalan di bawah rindangnya pepohonan.

Kesan tersebut semakin kuat ketika Mariana Renata membuka pertunjukan malam itu. Mengenakan mantel panjang bernuansa hijau hutan yang dipadukan dengan blus berkerah dan bawahan bermotif senada, ia langsung menetapkan suasana yang akan mengalir sepanjang pertunjukan. Detail bros berbentuk burung di bagian leher menjadi sentuhan yang mempertegas hubungan koleksi ini dengan alam.

Seiring pertunjukan berjalan, perhatian saya tertuju pada permainan tekstur yang menjadi salah satu kekuatan utama koleksi ini. Linen, katun, silk twill, organza transparan, tulle, hingga lamé dipadukan dengan sangat harmonis sehingga menghasilkan dimensi yang kaya. Banyak siluet dibuat longgar dan mengalir, memungkinkan setiap material bergerak bebas mengikuti langkah para model.

Pada beberapa tampilan, lengan berukuran besar bergerak menyerupai sayap yang sedang mengepak. Efek visualnya sederhana, tetapi sangat memikat. Saya mendapati diri terus mengikuti pergerakan kain yang berubah-ubah seiring langkah para model di atas runway. Menariknya, selain motif floral yang hadir sebagai bagian dari identitas Biyan, koleksi juga menghadirkan permainan garis, motif botani, dan berbagai detail organik yang membuat keseluruhan koleksi terasa lebih matang dan berlapis. Setiap tampilan seolah memiliki cerita yang ingin disampaikan tanpa harus tampil berlebihan.

Kekaguman saya semakin bertambah ketika melihat bagaimana Biyan memainkan aksesori. Anting-anting panjang yang menjuntai, kalung berukuran besar, hingga bros berbentuk burung tampil menonjol tanpa mengalihkan perhatian dari busana itu sendiri. Justru sebaliknya, aksesori-aksesori tersebut menjadi bagian penting dari narasi koleksi. Mereka berbicara tentang alam, kebebasan, dan kehidupan yang terus tumbuh serta bertransformasi.

Di tengah dominasi koleksi perempuan, lini menswear juga hadir dengan potongan santai, seperti celana pendek longgar dan kemeja berpotongan rileks menghidupkan nuansa musim panas yang ringan dan effortless. Ada sentuhan gaya kota-kota pesisir Eropa. Namun, tetap terasa memiliki identitas Asia yang kuat melalui permainan tekstur dan layering khas Biyan.

Ketika pertunjukan berakhir dan para model melakukan final walk, saya menyadari bahwa yang paling membekas adalah suasana yang dibangun sepanjang pertunjukan. Patina bukan koleksi yang berusaha menjadi paling mencolok atau paling ramai. Ia tidak berteriak untuk menarik perhatian. Sebaliknya, koleksi ini mengajak penontonnya untuk melambat sejenak, menikmati detail-detail kecil, dan menghargai proses yang sering kali luput dari perhatian.

Mungkin karena itulah koleksi ini terasa begitu relevan dengan kehidupan saat ini. Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, Patina mengingatkan bahwa ada keindahan yang hanya bisa lahir dari waktu. Dari perjalanan panjang. Dari proses bertumbuh yang berlangsung perlahan dan sering kali tidak terlihat. Dan bagi saya, itulah yang membuat malam itu begitu berkesan.